Senin, 26 Oktober 2009

Laju Reaksi

A. KONSEP LAJU REAKSI
1. Pengertian laju reaksi
Reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Meledaknya
petasan, adalah contoh reaksi yang berlangsung dalam waktu singkat. Proses perkaratan
besi, pematangan buah di pohon, dan fosilisasi sisa organisme merupakan peristiwa-
peristiwa kimia yang berlangsung sangat lambat.
Reaksi kimia selalu berkaitan dengan perubahan dari suatu pereaksi (reaktan)
menjadi hasil reaksi (produk).
Pereaksi (reaktan) → Hasil reaksi (produk)
Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berkurangnya jumlah (konsentrasi) pereaksi
per satuan waktu atau bertambahnya jumlah (konsentrasi) hasil reaksi per satuan
waktu.



Berdasarkan grafik diatas, maka:
Laju reaksi = – = +Δ[Produk]
Δt
= v pereaksi = v produk
Di mana:
[Pereaksi] = konsentrasi pereaksi (mol/Liter)
[Produk] = konsentrasi produk (mol/Liter)
Δ t = perubahan waktu (detik)
v = laju reaksi (M/detik)
(Tanda negatif menunjukkan bahwa konsentrasi pereaksi berkurang, sedangkan tanda
positif menunjukkan bahwa konsentrasi produk bertambah)

2. Molaritas larutan (M) dan penggunaannya
Reaksi zat dalam bentuk larutan sering dipengaruhi oleh perbandingan komponen
penyusun larutan. Larutan biasanya disebut encer, bila mengandung sedikit zat terlarut.
Encer pekatnya larutan disebut konsentrasi.
Satuan laju reaksi umumnya dinyatakan dengan mol/liter.detik. Molaritas (mol/
liter) adalah ukuran yang menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam satu liter
larutannya.
Molaritas (M) =
Atau:
Molaritas (M) = ×

Contoh soal:
Berapa molaritas larutan yang dibuat dengan cara melarutkan 49 gram H2SO4 (Mr =
98) dalam air sampai volume 200 mL?
Jawab:
Molaritas (M) = × 1000
vol
zat larut = × = 2,5 mol/ Liter (M)
larutan

Adakalanya, larutan yang tersedia di laboratorium adalah larutan-larutan yang
konsentrasinya sangat tinggi (larutan pekat), sehingga bila kita memerlukan larutan
dengan konsentrasi rendah maka kita perlu mengencerkannya terlebih dahulu.
Pengenceran adalah penambahan zat pelarut ke dalam suatu larutan yang pekat
untuk mendapatkan larutan baru yang konsentrasinya lebih rendah. Jumlah mol sebelum
pengenceran harus sama dengan jumlah mol setelah pengenceran, sehingga:


Dimana:
M1 = konsentrasi molar awal
V1 = volume larutan awal
M2 = konsentrasi molar setelah pengenceran
V2 = volume larutan setelah pengenceran
n2 = konsentrasi molar setelah pengenceran
n2 = volume larutan setelah pengenceran

B. PERSAMAAN LAJU REAKSI

Hubungan kuantitatif antara perubahan konsentrasi dengan
laju reaksi dinyatakan dengan Persamaan Laju Reaksi atau
Hukum Laju Reaksi.
Untuk reaksi:
pA + qB rC
maka bentuk umum persamaan lajunya adalah:
v = k [A]m [B]n
dimana:
v = laju reaksi (mol/ Liter. s)
k = tetapan laju reaksi
m = orde/tingkat reaksi terhadap A
n = orde/tingkat reaksi terhadap B
[A] = konsentrasi awal A (mol/ Liter)
[B] = konsentrasi awal B (mol/ Liter)
Tingkat reaksi (orde reaksi) tidak sama dengan koefisien reaksi. Orde reaksi hanya
dapat ditentukan melalui percobaan. Tingkat reaksi total adalah jumlah tingkat reaksi
untuk setiap pereaksi.
Orde reaksi total = m + n
Orde reaksi menunjukkan hubungan antara perubahan konsentrasi pereaksi dengan
perubahan laju reaksi. Hubungan antara kedua besaran ini dapat dinyatakan dengan
grafik orde reaksi.
• Pada reaksi orde nol, laju reaksi tidak bergantung pada konsentrasi pereaksi.


• Pada reaksi orde satu, laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi
Jika konsentrasi dinaikkan dua kali, maka laju reaksinya pun akan dua kali lebih
cepat dari semula, dst.

• Pada reaksi orde dua, kenaikan laju reaski akan sebanding dengan kenaikan
konsentrasi pereaksi pangkat dua. Bila konsentrasi pereaksi dinaikkan dua kali
maka laju reaksinya akan naik menjadi empat kali lipat dari semula.

Dengan demikian, jika konsentrasi suatu zat dinaikkan a kali, maka laju reaksinya
menjadi b kali; sehingga orde reaksi terhadap zat tersebut adalah :
dimana x = orde reaksi

0 komentar:

Posting Komentar